Get Free Music at www.divine-music.info
Get Free Music at www.divine-music.info

Free Music at divine-music.info

Jumat, 15 November 2024

Here are some simple tips to manage your time better:

  1. Make a To-Do List - Write down everything you need to do each day. Checking things off gives you a sense of accomplishment.

  2. Set Priorities - Do the most important tasks first. This way, even if you don’t finish everything, the important stuff is done.

  3. Use a Timer - Set a timer for study time and break time, like studying for 25 minutes and taking a 5-minute break. This helps you stay focused.

  4. Avoid Distractions - Put away your phone or anything else that might distract you while working. This helps you finish faster.

  5. Take Breaks - Don’t forget to rest between tasks. Short breaks help you feel refreshed and keep you from getting too tired.

  6. Make a Routine - Try to do things at the same time each day, like study time or sleep time. This makes it easier to stay on track.

  7. Reflect and Adjust - At the end of the day, look back at what you finished. If something didn’t work, think of how to improve it for tomorrow.

Using these steps can help you stay organized and make the most of your time.

Here is a list of some of Studio Ghibli’s most notable films:

  1. NausicaƤ of the Valley of the Wind (1984) - Although made before Ghibli’s official founding, it’s often considered the studio’s first film.
  2. Castle in the Sky (1986)
  3. My Neighbor Totoro (1988)
  4. Grave of the Fireflies (1988)
  5. Kiki’s Delivery Service (1989)
  6. Only Yesterday (1991)
  7. Porco Rosso (1992)
  8. Ocean Waves (1993) - Made for television.
  9. Pom Poko (1994)
  10. Whisper of the Heart (1995)
  11. Princess Mononoke (1997)
  12. My Neighbors the Yamadas (1999)
  13. Spirited Away (2001)
  14. The Cat Returns (2002)
  15. Howl’s Moving Castle (2004)
  16. Tales from Earthsea (2006)
  17. Ponyo (2008)
  18. The Secret World of Arrietty (2010)
  19. From Up on Poppy Hill (2011)
  20. The Wind Rises (2013)
  21. The Tale of the Princess Kaguya (2013)
  22. When Marnie Was There (2014)
  23. Earwig and the Witch (2020)

Each film showcases Ghibli's distinct style and storytelling, appealing to both children and adults.

Sinopsis Buku "Arya Supena":

"Arya Supena" adalah sebuah novel yang ditulis oleh Ajip Rosidi, beliau seorang sastrawan Indonesia terkemuka. Cerita dalam novelnya mengangkat tema kehidupan sosial dan politik di Indonesia khususnya pada masa pasca-kemerdekaan. Novel ini memperlihatkan konflik batin dan perjalanan spiritual tokoh utamanya, yaitu Arya Supena.

Arya Supena, sang protagonis, digambarkan sebagai seorang pemuda yang idealis dan memiliki semangat untuk memperjuangkan kebenaran. Namun, dalam perjalanannya, ia dihadapkan pada berbagai dilema moral dan godaan kekuasaan yang membuatnya harus mempertimbangkan kembali prinsip-prinsip hidupnya. Arya harus bergulat dengan perubahan zaman dan bagaimana pengaruh politik, korupsi, dan intrik sosial memengaruhi dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

Novel ini tidak hanya mengisahkan perjalanan personal Arya Supena, melainkan menyentuh isu-isu yang lebih luas, seperti nasionalisme, idealisme, dan peran individu dalam perubahan sosial. Karya ini menawarkan kritik sosial yang mendalam, namun menggugah sisi kemanusiaan dengan cara yang lembut dan reflektif.

Dengan gaya bahasa yang khas dan kaya makna, Ajip Rosidi mampu membawa pembaca untuk menyelami pergulatan batin Arya Supena dan dinamika sosial di sekitarnya. "Arya Supena" adalah karya yang relevan, bahkan hingga sekarang karena menyentuh nilai-nilai universal tentang manusia dan kekuasaan.

Sabtu, 04 Januari 2020

Perbedaan Hasil Belajar Matematika Siswa Pada Materi Pola Bilangan Menggunakan Metode Penemuan Terbimbing dan Metode Ekspositori


ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil belajar matematika menggunakan metode Penemuan Terbimbing dan metode Ekspositori pada materi pola bilangan. Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan tepatnya yaitu bulan Juni sampai dengan bulan Agustus 2018, dengan jumlah sampel sebanyak 70 orang siswa, tepatnya 35 orang siswa kelas VIII A yang diberi pembelajaran menggunakan metode Penemuan Terbimbing, dan 35 siswa kelas VIII B yang diberi pembelajaran menggunakan metode Ekspositori, yaitu pemilihan sampel penelitian dilakukan secara cluster random sampling. 
Berdasarkan perhitungan diperoleh data bahwa rata-rata hasil belajar siswa melalui metode Penemuan Terbimbing memiliki rata-rata sebesar 77,80 simpangan baku sebesar 10,01 median sebesar 76,36 serta modus sebesar 74,9. Selanjutnya hasil belajar siswa yang diajar melalui metode Ekspositori memiliki rata-rata sebesar 72,60 simpangan baku sebesar 10,98 median sebesar 72,69 serta modus sebesar 73,3. Berdasarkan uji hipotesis diperoleh nilai t_hitung = 2,07 > t_tabel = 1,997. Maka diperoleh kesimpulan bahwa H_1 diterima dan H_o ditolak. 
Kesimpulan penelitian ini adalah Terdapat Perbedaan yang Signifikan Antara Hasil Belajar Matematika Siswa Pada Materi Pola Bilangan Menggunakan Metode Penemuan Terbimbing dan Metode Ekspositori di Kelas VIII SMP Negeri 22  Depok.

Puisi: Kursi Pelaminan Biru

“Kursi Pelaminan Biru”

[Karya: Ariya Supena]

Menanti, lama menanti datangnya sang pujaan hati
Lama-lama tak datang hingga kini
Hari silih berganti 
Bulan berganti tahun

Senang, hati senang
Setelah menanti cinta datang
Sungguh hati bahagia, sayang!
Ternyata cinta datang tercipta harapan

Siapa?
Ternyata…
Dia
Teman ku yang paling setia

Perasaan cinta terucap
Cincin emas yang kuberikan lambang cinta dariku
Perkawinan tiba bak sorga dunia
Kan tercapailah mimpi-mimpi yang indah

Kursi pelaminan biru berada di malam pengantin
Ku duduk dengannya di kursi pelaminan
Di sambut hangat pesta perkawinan
Kursi pelaminan biru t’lah menjadi saksinya

Selasa, 17 September 2019

PUISI: Alegori Berdiri Di Kaki Sendiri

“Alegori Berdiri Di Kaki Sendiri”

[Karya: Ariya Supena]

Ku kuat karena dulunya lemah
Ku berani karena dulunya takut

Pasang surut kehidupan bagai beban
Pikiran-pikiran jahat halangi 1000 niat
Manusia-manusia dengki tak kehabisan akalnya
Serasa cercaan, hinaan, dan tertawaan membuat goresan luka

Andai semua tau perasaanku?
Pedih hanya ku tahan
Perih hanya ku telan

Kaki ku pasrahkan tuk melangkah tegap
Tangan ku korbankan tuk menggenggam asa
Keringat temani langkah-langkah kaki menggapai impian nan nyata
Sungguh bersama kesulitan akan ada kemudahan

Setelah banyak ku berkorban
Kini ku bangga telah mendapatkan
Dan ku syukuri segala nikmat Tuhan

Berjuang…
Berjuang diatas kaki sendiri
Yakin akan terwujud semua mimpi
Ikuti langkah kaki
Coba tuk berdikari

Minggu, 06 Januari 2019

Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

BAB I
PENGERTIAN, KONSEP DASAR, MANFAAT, DAN TUJUAN PTK

1.1. Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian tindakan kelas (PTK) yaitu suatu upaya dari pihak terkait, khususnya guru sebagai pengajar, untuk meningkatkan atau memperbaiki proses belajar mengajar ke arah tercapainya tujuan pendidikan atau pengajaran itu sendiri. Masalah penelitiannya bersumber dari lingkungan kelas yang dirasakan sendiri oleh guru untuk diperbaiki, dievaluasi dan akhirnya dibuat suatu keputusan sebagai solusi dan dilaksanakan suatu tindakan untuk memecahkan masalah dalam pembelajaran tersebut (Indrawati, dkk. 2001:10).
Pada dasarnya, guru telah melaksanakan penelitian ini. Guru yang piawai, senantiasa melakukan perbaikan terhadap pembelajaran yang dilakukannya. Jika hari ini guru kurang puas dengan proses pembelajaran yang dilakukan, dia berusaha memperbaikinya untuk besok, dan begitu seterusnya. Ketidakpuasan guru dalam proses pembelajaran adalah mencirikan adanya masalah. Masalah tersebut muncul dari lingkungan kelas. Hal itu dirasakan sendiri oleh guru untuk diperbaiki.  Dengan kegiatan itu, pada hakikatnya, guru telah melakukan penelitian tindakan kelas. Oleh karena itu, penelitian tindakan kelas adalah salah satu usaha untuk melakukan perbaikan proses pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan.
Dengan demikian, konsep dasar PTK adalah:
a) mengetahui secara jelas masalah-masalah yang ada di kelas.
b) mengatasi masalah-masalah yang ada di kelas.
Wujud pelaksanaan PTK meliputi sejumlah kegiatan penting. Kegiatan itu adalah: refleksi awal, perencanaan, tindakan, observasi untuk keperluan evaluasi. Selanjutnya dilakukan refleksi terhadap hasil tindakan. Begitulah seterusnya sampai memenuhi siklus yang direncanakan. Refleksi awal dimaksudkan untuk menemukan masalah-masalah yang harus dipecahkan. Hasil refleksi itu menjadi acuan untuk menyusun rencana tindakan. Rencana tindakan itu berupa alternatif-alternatif pemecahan masalah. Sedangkan tindakan adalah kegiatan memilih alternatif terbaik dan kemudian melakukan tindakan sesuai dengan alternatif pilihan itu. Observasi dimaksudkan untuk mengumpulkan data tentang tindakan-tindakan yang dilakukan. Data-data itu kemudian dijadikan sebagai bahan evaluasi. Sedangkan refleksi akhir dimaksudkan untuk melihat kembali masalah-masalah yang telah terselesaikan dana masalah-masalah baru yang timbul karenanya.
1.2. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tindakan Kelas
Ada lima tujuan PTK. Kelima tujuan itu adalah: (1) memperbaiki praksis pembelajaran di kelas; (2) meningkatkan kualitas proses pembelajaran; (3) meningkatkan kualitas hasil pembelajaran; (4) meningkatkan pelayanan sekolah terhadap pembelajar; (5) meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran.
Sedangkan manfaat PTK adalah: (1) inovasi pembelajaran; (2) pengembangan kurikulum di tingkat sekolah; (3) peningkatan profesionalisme guru; (4) pengoptimalan pelayanan kepada pebelajar.
1.3. Proposal dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas
Proposal atau rencana PTK dibuat sebelum penelitian dilakukan. Proposal ini akan menjadi pedoman bagi peneliti untuk melakukan penelitian. Selain itu, proposal juga berguna sebagai bahan untuk mendapatkan dukungan dari pihak sponsor. Dukungan sponsor itu dapat berupa dukungan moral, material, dan dana. Dengan demikian, ada dua fungsi proposal yakni, sebagai pedoman bagi peneliti dan sebagai bahan pertimbangan bagi sponsor untuk membantu pelaksanaan penelitian.

BAB II
TIPOLOGI (TIPE) DAN SCOPE PTK

2.1 Tipologi dan Scope Penelitian Tindakan Kelas
Berdasarkan setting dan lokasinya terdapat bermacam-macam penelitian tindakan (Henry & Mctaggart, dalam depdikbud, 1999:2 ) yang masing-maisng mempunyai penekanan berbeda.
a. Participatory action research: Biasanya dilakukan sebagai strategi transformasi sosial yang menekankan pada keterlibatan masyarakat, rasa ikut meiliki program dan analisis problem sosial berbasis masyarakat.
b. Critical action research: Biasanya dilakukan oleh kelompok yang secara kolektif mengkritis masalah praktis dengan penekanan pada komitmen untuk bertindak menyempurnakan situasi, misalnya hal-hal yang terkait dengan ketimpangan ras atau gender.
c. Classroom action research: Biasanya dilakukan oleh guru / calon guru dikelas atau sekolah tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praktik pemblajran
d. Institusional action research: Biasanya dilaksanakan oleh pihak manajemen atau organisasi untuk meningkatkan kinerja, proses, dan produktivitas dalam suatu lembaga. Intinya tindakan yang berupaya menyelesaikan masalah-masalah organisasi atau manajemen melalui pertukaran pengalaman secara praktis.
Ditinjau dari scope atau ruang lingkupnya, penelitian tindakan bisa dilakukan di berbagai level, antara lain :
a. Penelitian tindakan skala makro 1) Meningkatkan partisipasi dunia usaha dalam pembiayaan pendidikan. 2) Meningkatkan angka partisipasi siswa tingkat SLTA 3) Menggalakkan penulisan karya ilmiah penelitian oleh guru
b. Penelitian tindakan level sekolah 1) Meningkatkan kepedulian orang tua untuk mendorong belajar siswa 2) Mengurangi jumlah kasus “school vandalism”/ tawuran 3) Menghidupkan unit produksi di sekolah kejuruan
c. Penelitian tindakan untuk guru (level kelas )
1) Meningkatkan “time on task” siswa dalam pembelajaran
2) Merangsang anak untuk berani bertanya dalam KBM
3) Mengatasi kesulitan siswa dalam pokok bahasan fungsi komposit
4) Menumbuhkan kebetahan siswa belajar sejarah diperpustakaan.

BAB III
JENIS DAN MODEL-MODEL PTK

3.1 Jenis-Jenis Penelitian Tindakan Kelas
Ada empat jenis PTK, yaitu: (1) PTK diasnogtik, (2) PTK partisipan, (3) PTK empiris, dan (4) PTK eksperimental (Chein, 1990). Untuk lebih jelas, berikut dikemukakan secara singkat mengenai keempat jenis PTK tersebut.
1. PTK Diagnostik; yang dimaksud dengan PTK diagnostik ialah penelitian yang dirancang dengan menuntun peneliti ke arah suatu tindakan. Dalam hal ini peneliti mendiagnosia dan memasuki situasi yang terdapat di dalam latar penelitian. Sebagai contohnya ialah apabila peneliti berupaya menangani perselisihan, pertengkaran, konflik yang dilakukan antar siswa yang terdapat di suatu sekolah atau kelas.
2. PTK Partisipan; suatu penelitian dikatakan sebagai PTK partisipan ialah apabila orang yang akan melaksanakan penelian harus terlibat langsung dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian berupa laporan. Dengan demikian, sejak penencanan panelitian peneliti senantiasa terlibat, selanjutnya peneliti memantau, mencacat, dan mengumpulkan data, lalu menganalisa data serta berakhir dengan melaporkan hasil panelitiannya. PTK partisipasi dapat juga dilakukan di sekolah seperti halnya contoh pada butir a di atas. Hanya saja, di sini peneliti dituntut keterlibatannya secara langsung dan terus-menerus sejak awal sampai berakhir penelitian.
3. PTK Empiris; yang dimaksud dengan PTK empiris ialah apabila peneliti berupaya melaksanakan sesuatu tindakan atau aksi dan membukakan apa yang dilakukan dan apa yang terjadi selama aksi berlangsung. Pada prinsipnya proses penelitinya berkenan dengan penyimpanan catatan dan pengumpulan pengalaman penelti dalam pekerjaan sehari-hari.
4. PTK Eksperimental; yang dikategorikan sebagai PTK eksperimental ialah apabila PTK diselenggarakan dengan berupaya menerapkan berbagai teknik atau strategi secara efektif dan efisien di dalam suatu kegiatam belajar-mengajar. Di dalam kaitanya dengan kegitan belajar-mengajar, dimungkinkan terdapat lebih dari satu strategi atau teknik yang ditetapkan untuk mencapai suatu tujuan instruksional. Dengan diterapkannya PTK ini diharapkan peneliti dapat menentukan cara mana yang paling efektif dalam rangka untuk mencapai tujuan pengajaran.
3.2 Model-Model Penelitian Tindakan Kelas
Ada beberapa model PTK yang sampai saat ini sering digunakan di dalam dunia pendidikan, di antaranya: (1) Model Kurt Lewin, (2) Model Kemmis dan Mc Taggart, (3) Model John Elliot, dan (4) Model Dave Ebbutt.
1.Model Kurt Lewin; di depan sudah disebutnya bahwa PTK pertama kali diperkenalkan oleh Kurt Lewin pada tahun 1946. konsep inti PTK yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin ialah bahwa dalam satu siklus terdiri dari empat langkah, yaitu: (1) Perencanaan ( planning), (2) aksi atau tindakan (acting), (3) Observasi (observing), dan (4) refleksi (reflecting) (Lewin, 1990). Sementara itu, empat langkah dalam satu siklus yang dikemukakan oleh Kurt Lewin tersebut oleh Ernest T. Stringer dielaborasi lagi menjadi: (1) Perencanaan (planning), (2) Pelaksanaan (implementing), dan (3) Penilaian (evaluating) (Ernest, 1996).
2.Model John Elliot; apabila dibandingkan dua model yang sudah diutarakan di atas, yaitu Model Kurt Lewin dan Kemmis-McTaggart, PTK Model John Elliot ini tampak lebih detail dan rinci. Dikatakan demikian, oleh karena di dalam setiap siklus dimungkinkan terdiri dari beberapa aksi yaitu antara 3-5 aksi (tindakan). Sementara itu, setiap aksi kemungkinan terdiri dari beberapa langkah, yang terealisasi dalam bentuk kegiatan belajar-mengajar. Maksud disusunnya secara terinci pada PTK Model John Elliot ini, supaya terdapat kelancaran yang lebih tinggi antara taraf-taraf di dalam pelaksanan aksi atau proses belajar-mengajar. Selanjutnya, dijelaskan pula olehnya bahwa terincinya setiap aksi atau tindakan sehingga menjadi beberapa langkah oleh karena suatu pelajaran terdiri dari beberapa subpokok bahasan atau materi pelajaran. Di dalam kenyataan praktik di lapangan setiap pokok bahasan biasanya tidak akan dapat diselesaikan dalam satu langkah, tetapi akan diselesaikan dalam beberapa rupa itulah yang menyebabkan John Elliot menyusun model PTK yang berbeda secara skematis dengan kedua model sebelumnya, yaitu seperti dikemukakan berikut ini.

BAB IV
KARAKTERISTIK DAN PRINSIP PTK

4.1 Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas
Memahami karakteristiknya sebagai berikut :
1. Masalah yang diteliti adalah real/nyata yang dihadapi sehari-hari didalam kelas yang menjadi kewenangan guru (On The Job Problem Oriented)
2. Berorientasi pada pemecahan masalah (Problem Solving Oriented) artinya penelitian tidak menghasilkan pengertian atau pemehaman suatu masalah, tetapi menghasilkan solusi atau pemecahan masalah yang ada.
3. Berorientasi pada peningkatan kualitas (Improvement Oriented). Masing-masing komponen yang ada berkembang atau berubah kearah yang lebih baik.
4. Berbagai cara pengumpulan data dipergunakan (Multiple data collectio), diantaranya dengan observasi, tes, wawancara, kuisener dan lain-lain.
5. Bersifat berulang (Cyclic), artinya tindakan yang dilakukan secara berulang memalui urutan perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observing), dan refleksi (reflekting).
6. Adanya kolaborasi dalam pelaksanaannya (collaborative) artinya dalam pelaksanaan tindakan harus bekerja sama dengan teman sejawat yang menjadi pengamat dan menjadi teman untuk evaluasi bersama.
4.2 Prinsip-Prinsip Penelitian Tindakan Kelas
Menurut Hopkins (1993) ada enam prinsip penelitian tindakan kelas, yaitu :
1. Tidak mengganggu komitmennya sebagai guru
2. Metode pengumpulan data harus tidak mengganggu proses pembelajaran
3. Metode peneltitian yang digunakan hendaknya yang dapat menjawab hipotesis
4. Masalah yang dipilih hendaknya masalah yang benar-benar mengganggu dan guru berkomitmen untuk mengatasinya
5. Guru harus konsisten dan perbaikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran
6. Cakupan permasalahan tidak dibatasi pada masalah pembelajaran dikelas, tetapi dapat diperluar pada tataran di luar kelas.

BAB V
CARA MENYUSUN PTK DAN LANGKAH-LANGKAH

5.1 Proposal dan Laporan PTK
Proposal atau rencana PTK dibuat sebelum penelitian dilakukan. Proposal ini akan menjadi pedoman bagi peneliti untuk melakukan penelitian. Selain itu, proposal juga berguna sebagai bahan untuk mendapatkan dukungan dari pihak sponsor. Dukungan sponsor itu dapat berupa dukungan moral, material, dan dana. Dengan demikian, ada dua fungsi proposal yakni, sebagai pedoman bagi peneliti dan sebagai bahan pertimbangan bagi sponsor untuk membantu pelaksanaan penelitian.
5.2. Prosedur Langkah-Langkah Pelaksanaan PTK
Prosedur awal dari PTK adalah merasakan ada sesuatu yang ‘tidak beres’.  Jika ada sesuatu yang tidak beres, pertanda ada masalah. Tentu saja masalah itu bukan satu, mungkin lebih dari satu. Oleh karena itu, peneliti (guru) perlu mencari fokus masalah yaitu masalah yang dianggap paling utama. Fokus masalah itu dianalisis oleh peneliti. Inti analisisnya adalah mengungkapkan faktor penyebab masalah, memprediksi implikasi (akibat yang bisa timbul jika masalah tidak diatasi), dan intervensi (deskripsi beberapa strategi pembelajaran sebagai alternatif untuk memecahkan masalah). Jadi penentuan masalah dan analisis masalah merupakan prosedur awal dari PTK.
Prosedur kedua adalah rencana pemecahan masalah atau rencana tindakan. Hal-hal yang direncanakan pada tahap ini adalah memilih dan menentukan pokok bahasan yang akan dijadikan objek PTK; memilih dan menetapkan strategi pembelajaran sebagai tindakan pemecahan masalah; menyusun langkah-langkah penerapan strategi dalam bentuk desain atau rencana pembelajaran; merumuskan kembali masalah, dan diikuti dengan hipotesis tindakan. Jadi ada semacam kegiatan hierarkis pada prosedur ini. Dimulai dari pokok bahasan yang akan diteliti dan diakhiri dengan perumusan hipotesis tindakan.
Prosedur ketiga adalah adalah penetapan rencana pengumpulan data. Hal yang direncanakan pada bagian ini adalah penyusunan instrumen pengumpul data. Instrumen yang disusun ditetapkan untuk pengumpulan data apa, digunakan kapan, dan yang menggunakan siapa, jika memerlukan responden, respondennya siapa dan jumlahnya berapa. Pada bagian ini benar-benar terlihat hal-hal yang berhubungan dengan pengumpulan data.
Prosedur keempat adalah rencana analisis data. Pada bagian ini ditetapkan teknik untuk menganalisis data. Dengan cara atau teknik bagaimana data dianalisis, ditetapkan pada bagian ini. Selain itu, pada bagian ini juga ditetapkan interpretasi data atau refleksi. Dengan demikian, rencana tindakan selanjutnya dapat disusun berdasarkan hasil refleksi. Begitulah seterusnya sampai pada siklus yang kesekian.

BAB VI
PENETAPAN FOKUS MASALAH, TEKNIK PENGUMPULAN DATA, DAN ANALISIS DATA PTK

6.1 Menentukan Fokus Masalah PTK Dan Teknik Pengumpulan Data
1. Menentukan Fokus Masalah
Paling tidak, ada empat hal yang perlu dipertimbangkan dengan baik untuk menentukan fokus (lihat Bogdan & Biklen, 1982):
a. Pilihlah topik yang paling penting bagi Anda pribadi dan mampu membangkitkan motivasi Anda untuk meneliti. Topik yang Anda teliti hendaknya sesuatu yang mampu mengusik perasaan dan pikiran Anda. Harus ada "greget" yang kuat terhadap topik itu. Jangan pilih topik yang tidak lahir dari dalam diri Anda sendiri, tetapi dipaksa oleh pihak luar (termasuk tugas wajib untuk penulisan skripsi, tesis, dan lain-lain)
b. Pilihlah topik dengan ukuran dan kompleksitas yang mampu Anda teliti dalam jangkauan waktu dan sarana yang Anda miliki. Penentuan topik atau fokus adalah proses yang subjektif. Seorang peneliti boleh menentukan topik apa pun yang ingin ditelitinya. Peneliti itu sendiri yang mengetahui apa yang dia miliki dan seberapa jauh ia mampu menangani sebuah proyek penelitian.
c. Pilihlah topik yang Anda tidak terlibat langsung di dalamnya. Keterlibatan peneliti secara langsung e dalam topik kajian akan menimbulkan berbagai masalah. Misalnya, jika Anda bertanya kepada informan yang Anda kenal baik (dan mereka mengenal Anda dengan baik pula) tentang sesuatu hal yang sensitif, mungkin akan membuat informan merasa kikuk (kaku) dan justru lebih tertutup. Jika Anda "terlalu tahu" tentang objek penelitian, maka justru malah tidak sensitif dan kehilangan perspektif yang objektif dalam pengumpulan data.
d. Pilihlah topik yang Anda perkirakan memiliki data yang relatif mudah diakses (dikumpulkan). Jangan mempersulit apa yang sudah sulit. Pengumpulan data adalah proses yang cukup kompleks dan sulit. Bila hal ini Anda tambah dengan sulitnya mendapatkan data, maka Anda mungkin akan mendapat hambatan besar. Data adalah bahan baku utama penelitian. Peneliti harus menyadari hal ini.
2. Contoh Fokus Penelitian
“Penerapan Metode Pembelajaran Dalam Meningkatkan Kreativitas Siswa Di SDN Sukamaju Baru”
Beberapa pertanyaan utama yang akan di coba di jawab melalui penelitian adalah sebagai berikut:
a. Bagaimanakah metode pembelajan yang di terapkan di SD Sukamaju Baru?
b. Faktor apa yang menjadi kendala dalam kreativitas siswa di SD Sukamaju Baru?
c. Adakah pengaruh metode pembelajaran tehadap kretivitas siswa dalam proses pembelajaran di SD Sukamaju Baru?
d. Solusi apa saja yang terkait metode pembelajaran dalam meningkatkan kreativitas siswa Di SD Sukamaju Baru?
Prioritas pemecahan masalah dapat anda dasarkan pada pertimbangan sebagai berikut:
a. Fokus masalah tersebut sudah tidak dapat ditoleransi lagi dan harus segera dicarikan jalan keluarnya.
b. Fokus masalah tersebut sudah mendapatkan perhatian umum sehingga prlu segera mendapatkan jawaban pemecahanya.
c. Fokus masalah tersebut cukup signifikan dalam mengganggu pencapaian tujuan pembelajaran bila dibanding dengan fokus masalah yang lain.
d. Fokus masalah tersebut dapat dengan segera dicarikan jalan pemecahanya oleh guru yang bersangkutan bila disbanding dengan fokus masalah lain.
Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Tujuan yang diungkapkan dalam bentuk hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap petanyaan penelitian. Jawaban itu masih perlu diuji secara empiris, dan untuk maksud inilah dibutuhkan pengumpulan data. Data yang dikumpulkan ditentukan oleh variabel-variabel yang ada dalam hipotesis. Data itu dikumpulkan oleh sampel yang telah ditentukan sebelumnya. Sampel tersebut terdiri atas sekumpulan unit analisis sebagai sasaran penelitian.
Variabel-variabel yang diteliti terdapat pada unit analisis yang bersangkutan dalam sampel penelitian. Data yang dikumpulkan dari setiap variabel ditentukan oleh definisi operasional variabel yang bersangkutan. Definisi operasional itu menunjuk pada dua hal yang penting dalam hubungannya dengan pengumpulan data, yaitu indikator empiris dan pengukuran. Indikator empiris menunjuk pada yang diamati dari variabel yang bersangkutan, dan pengukuran menunjuk pada kualitas yang diamati. Sehubungan dengan masalah pengukuran ini, harus disadari bahwa kita menghadapi obyek yang berbeda-beda yang mengakibatkan adanya variasi dalam pengukuran
6.2 Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data ialah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk pengumpulan data. Metode (cara atau teknik) menunjuk suatu kata yang abstrak dan tidak diwujudkan dalam benda, tetapi hanya dapat dilihat penggunaannya melalui: angket, wawancara, pengamatan, ujian (tes), dokumentasi dan lainya. Peneliti dapat menggunakan salah satu atau gabungan tergantung dari masalah yang dihadapi.
Untuk mengumpulkan data dari sampel penelitian, dilakukan dengan metode tertentu sesuai dengan tujuannya. Dalam proses pengumpulan data tentu diperlukan sebuah alat atau instrumen pengumpul data. Alat pengumpul data dapat dibedakan menjadi dua yaitu pertama alat pengumpul data dengan menggunakan metode tes dan metode non tes.
1. Tes Hasil Belajar (Achievement Test)
Tes yang mengukur apa yang telah dipelajari pada berbagai bidang studi, jenis data yang dapat diambil menggunakan tes hasil belajar (Achievement Test) ini adalah taraf prestasi dalam belajar.
2. Pengumpulan Data dengan Metode Non Tes
Untuk melengkapi data hasil tes akan lebih akurat hasilnya bila dipadukan dengan data-data yang dihasilkan dengan menggunakan tehnik yang berbeda, berikut disajikan alat pengumpul data dalam bentuk non tes. Adapun jenis-jenis metode non tes, yaitu
a. Observasi
b. Angket atau kuesioner (questionnaire)
c. Wawancara
d. Studi Dokumenter
6.3 Analisis Data Penelitian Tindakan Kelas
Analisis data dan intrepretasi data terhadap data yang berhasil dikumpulkan dalam pelaksanaan penelitian tindakan dapat dilakukan sepanjang proses penelitian.Karena penelitian tindakan adalah penelitian yang bersifat dialektik, yaitu: perencanaan, tindakan yang diserta dengan pengumpulan data, dilanjutkan dengan analisis dan interpretasi data, perencanaan baru, tindakan dan pengumpulan data, analisis dan interpretasi data lagi dan seterusnya. Namun, perlu diingat bahwa meskipun analisis data dan interpretasi data dapat dilakukan dalam proses pelaksanaan penelitian tindakan, tetapi perlu dihindari analisis dan interpretasi data yang terlalu dini. Hal ini dilakukan untuk menghindari penarikan kesimpulan yang dilakukan secara tergesa-gesa. Analisis data dalam pelaksanaan penelitian tindakan sangat berbeda dengan analisis data pada jenis penelitian lainnya. Analisis data dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif menggunakan pendekatan statistik, uji perbedaan, uji korelasi, dsb. Sedangkan, pada penelitian tindakan dengan pendekatan kualitatifnya menggunakan analisis yang bersifat naratif-kualitatif atau dengan kata lain menguraikan atau menjelaskan secara jelas hasil temuan yang diperoleh dalam pelaksanaan tindakan.
G.E. Mills (2000) mengemukakan beberapa teknik analisis data pada penelitian tindakan, yaitu:
1. Mengindentifikasi tema-tema. Dari data yang terkumpul melalu proses induktif dapat diidentifikasi menjadi tema-tema tertentu. Penarikan kesimpulan berdasarkan keadaan yg khusus untuk diperlakukan secara umum.
2. Membuat kode pada hasil survai, interviu, dan angket. Pengkodean ini dapat dilakukan untuk mengelompokkan pada kegiatan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dsb.
3. Mengajukan pertanaan kunci. Pertanyaan kunci membantu mensistematiskan data yang dapat membentuk informasi yang bermakna Peta konsep.
4. Memetakan secara visual faktor-faktor yang terkait dengan subjek, data, proses pembelajaran, masalah, dsb.
5. Analisis faktor yang mendahuli dan mengikuti.
6. Penyajian hasil temuan dalam bentuk tabel, grafik, peta, bagan, gambar, dll.
7. Mengemukakan apa yang belum ditemukan.